Friend Zone Alert (Novela)

/ 12:38:00 AM
Bisa, nggak, keluar dari zona ini tanpa kehilangan kamu?

Ini adalah buku keempat saya dan buku pertama saya yang rilis di tahun 2017. Friend Zone Alert, merupakan kumpulan novela bertema friend zone yang akan diterbitkan oleh Bentang Belia. Karakter-karakternya sendiri remaja ya, dengan target pembaca muda umur-umur SMA gitu. Rencananya, buku ini akan terbit sekitar bulan April 2017.

Buku ini berisi 5 novela dari 5 penulis yang berbeda. Punya saya berjudul Proyek Rahasia Lula, yang merupakan satu dari sekian naskah yang lolos waktu lomba novela bertema friend zone yang dilakukan penerbit tempo hari. Empat dari sekitar 50 naskah itu (or 25, lupa) akhirnya diterbitkan.

Novela Proyek Rahasia Lula ini sendiri sudah rilis dalam bentuk ebook di Google Play. Edisi cetakan hanyalah edisi revisi, walau tidak ada penambahan yang berarti.


Sebelumnya sudah dilakukan voting untuk kovernya. Saya pribadi memilih kover nomer B sewaktu diperlihatkan preview-nya pertama kali. Warnanya begitu soft, menarik dan jarang saya ketemu buku dengan warna seperti itu.

Hasilnya, kover yang terpilih adalah.... tara....


Ini memang kover pilihan saya.

Proyek Rahasia Lula ini sendiri mengisahkan tentang Lula, seorang  cewek SMA yang berambisi menjadi sineas. Ia suka membuat film. Bersama sahabatnya yang bernama Rah Adi, Lula ingin mengikuti kompetisi film pendek dari dinas pendidikan setempat.

Namun belum sempat filmnya rampung, Lula dan Rah Adi bertengkar gara-gara Donna. Nah, siapa sih Donna itu? Kenapa dia bisa sampai membuat Rah Adi dan Lula bertengkar.

Selengkapnya, bisa kamu baca di bukunya.

Untuk versi ebook, kovernya seperti ini:





Jika kamu tidak sabar untuk membaca, kamu bisa kok beli di Google Play, linknya ada di Proyek Rahasia Lula versi ebook


Salam

Bisa, nggak, keluar dari zona ini tanpa kehilangan kamu?

Ini adalah buku keempat saya dan buku pertama saya yang rilis di tahun 2017. Friend Zone Alert, merupakan kumpulan novela bertema friend zone yang akan diterbitkan oleh Bentang Belia. Karakter-karakternya sendiri remaja ya, dengan target pembaca muda umur-umur SMA gitu. Rencananya, buku ini akan terbit sekitar bulan April 2017.

Buku ini berisi 5 novela dari 5 penulis yang berbeda. Punya saya berjudul Proyek Rahasia Lula, yang merupakan satu dari sekian naskah yang lolos waktu lomba novela bertema friend zone yang dilakukan penerbit tempo hari. Empat dari sekitar 50 naskah itu (or 25, lupa) akhirnya diterbitkan.

Novela Proyek Rahasia Lula ini sendiri sudah rilis dalam bentuk ebook di Google Play. Edisi cetakan hanyalah edisi revisi, walau tidak ada penambahan yang berarti.


Sebelumnya sudah dilakukan voting untuk kovernya. Saya pribadi memilih kover nomer B sewaktu diperlihatkan preview-nya pertama kali. Warnanya begitu soft, menarik dan jarang saya ketemu buku dengan warna seperti itu.

Hasilnya, kover yang terpilih adalah.... tara....


Ini memang kover pilihan saya.

Proyek Rahasia Lula ini sendiri mengisahkan tentang Lula, seorang  cewek SMA yang berambisi menjadi sineas. Ia suka membuat film. Bersama sahabatnya yang bernama Rah Adi, Lula ingin mengikuti kompetisi film pendek dari dinas pendidikan setempat.

Namun belum sempat filmnya rampung, Lula dan Rah Adi bertengkar gara-gara Donna. Nah, siapa sih Donna itu? Kenapa dia bisa sampai membuat Rah Adi dan Lula bertengkar.

Selengkapnya, bisa kamu baca di bukunya.

Untuk versi ebook, kovernya seperti ini:





Jika kamu tidak sabar untuk membaca, kamu bisa kok beli di Google Play, linknya ada di Proyek Rahasia Lula versi ebook


Salam

Continue Reading
Bagi banyak orang, #MemesonaItu adalah bisa menerbitkan buku sendiri.

Bagi saya juga iya. Menjadi penulis merupakan impian saya dan saya sangat bersyukur karena mimpi itu bisa saya raih. Hingga tahun 2017 ini, saya sudah bisa menerbitkan 3 novel, 1 novela dalam bentuk ebook dan 1 novela cetak hasil nulis keroyokan dengan beberapa penulis.

Berada di posisi sekarang tidaklah mudah.  Perjuangannya itu bukan hanya karena harus bersaing dengan jutaan naskah yang masuk ke penerbit, melainkan juga dengan diri sendiri. Iya itu benar, karena ada waktu ketika saya juga harus berdamai dengan diri saya sendiri.

Seperti halnya dengan penulis-penulis yang lain, awal mula saya menulis karena saya suka sekali membaca. Bahkan saat SMP, saya sering menghabiskan uang jajan untuk meminjam buku di perpustakaan. Membaca sampai pagi pun sudah biasa.

Seingat saya, kegemaran menulis dimulai saat SMA. Walau tidak benar-benar berprestasi, tetapi salah satu puisi saya dimuat di koran lokal. Hobi itu berlanjut saat kuliah, saya aktif mengisi  majalah kampus dengan tulisan-tulisan non fiksi. Sesekali saya menulis cerita walaupun tidak pernah benar-benar mempublikasikannya ke siapa pun.

Setelah lulus, saya bekerja di sebuah perusahaan yang memberi saya akses gratis ke internet. Saya  mengikuti komunitas-komunitas menulis online dan kemudian bertemu dengan teman-teman yang sehobi. Pada saat itulah semuanya dimulai.

Saya mulai berani bermimpi untuk menerbitkan novel sendiri. Berdasarkan dari obrolan-obrolan di forum, saya jadi tahu bagaimana alur untuk mencapai penerbit. Saya berusaha dengan giat, mencari-cari alamat penerbit dan kemudian mengirimkan manuskrip-manuskrip saya.

Pada saat itu, saya seperti orang yang dikejar target. Saya selalu membuat resolusi setiap bulan, mengevaluasinya di akhir bulan dan memacu diri agar berhasil di bulan selanjutnya. Tanpa saya sadari, saya sama sekali tidak bisa menikmati proses menulisnya sendiri. Yang saya tahu, saya ingin menjadi penulis, ingin nama saya terpajang di toko buku. Yang saya tuju adalah hasil akhir, tanpa pernah mau terima apakah manuskrip saya sudah bagus atau tidak, apakah saya sudah menulis dengan benar atau buruk.

Apalagi kemudian, teman-teman seperjuangan saya satu per satu berhasil mewujudkan mimpi itu. Sementara saya sendiri hanya mendapat surat penolakan dari penerbit.

Hal itu terjadi hampir setahun lamanya, berulang-ulang setiap bulannya hingga saya sendiri lelah. Saya menyerah.

Lalu, saat itu saya menyadari bahwa menulis itu bukan mimpi saya, melainkan sebuah ambisi.


Ada sih bedanya kedua hal itu?

Dari KBBI, saya menemukan arti bahwa:

am.bi.si
•    n keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu:

mim.pi
1.    n sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur
2.    n ki angan-angan

Ambisi itu membuat saya lelah. Saya kehabisan semangat karena ditolak terus menerus dan akhirnya berhenti menulis. Keinginan untuk menerbitkan buku itu saya buang jauh-jauh.

Empat tahun kemudian, saya bertemu seorang kawan yang sudah menerbitkan banyak  buku. Saat itu, sebenarnya kami ingin hanya bertemu dan berbincang. Namun ternyata, saya tidak bisa menahan penasaran akan kisahnya hingga bisa menerbitkan banyak novel.

Kisahnya itu menginspirasi saya, mengingatkan saya akan mimpi yang sudah lama terkubur. Tanpa saya sangka, saya ingin kembali melanjutkan perjuangan yang tertunda.

Namun semuanya tidak mudah. Setelah sekian vakum, saya sama sekali tidak bisa memulai. Menulis  itu merupakan keterampilan yang harus dilakukan terus menerus. Jeda sekian tahun membuat saya bahkan tidak bisa menulis kalimat pertama.

Namun karena terdorong oleh mimpi, saya jadi terus berlatih. Saya kembali menulis. Sebagai awal, saya membeli beberapa novel dan mencontek gaya cerita penulis yang paling saya suka. Kelamaan, saya mulai menemukan gaya sendiri dan perlahan bisa lepas dari gaya cerita penulis favorit itu.

Namun keberhasilan tidak datang semudah itu. Dari sekian naskah yang saya tulis, ketika dikirim ke penerbit, tetap saja berujung pada penolakan. Lagi dan lagi, semua berulang-ulang seperti sebuah siklus. Saya menulis, merevisi, mengirim ke penerbit, ditolak, saya revisi lagi, saya kirim lagi.

Namun berbeda dengan dulu, saya tidak membiarkan penolakan itu menyakiti saya sedemikian rupa. Sedih sudah pasti iya, tetapi saya hanya memberi diri saya waktu berduka selama satu hari. Esoknya, saya berusaha untuk melupakan penolakan itu.

Saya kembali menulis naskah baru, terus belajar. Berbeda dengan dulu, kali ini saya menulis tanpa mengejar target. Saya hanya percaya, jika saya terus berlatih, terus berjuang, suatu saat saya pasti akan berhasil.
Mimpi membimbing saya untuk berproses, menikmati setiap jejak perjalanan dan mengimbangi optimisme dengan kemampuan untuk introspeksi diri.  Sehingga ketika mendapat penolakan dari penerbit, saya sadar bahwa masih ada yang kurang dengan naskah saya.

Prinsip yang baru ini membuat saya tahan banting. Hampir satu setengah tahun berlalu, sekian banyak penolakan, saya masih terus bertahan. Saya menulis dengan penuh cinta, dengan penuh kebahagiaan. Barangkali hal itu berpengaruh pada kualitas tulisan, hingga akhirnya salah satu naskah saya memenangkan sebuah perlombaan menulis. Tidak lama kemudian, naskah saya yang lain juga lolos di penerbit besar.

Benar, kan? Kerja keras itu tidak pernah ingkar janji. Di ujung perjuangan, saya dihadiahi hasil yang sangat luar biasa. Tiga novel saya terbit dalam setahun.



Sampai di sini, saya bisa bilang bahwa saya berhasil karena bisa membedakan antara mimpi dan ambisi.

Mimpi itu seperti cahaya yang membimbing di jalanan yang gelap, sementara ambisi seperti panas yang memaksa kita agar terus berlari meski sebenarnya sudah lelah. Walaupun di beberapa kasus, ambisi itu seperti cambuk untuk lebih maju, tetapi jika tidak diimbangi dengan kemampuan dan keikhlasan, maka ambisi bisa jadi malah menghancurkan. Pikir-pikir, jika saya terus mengikuti ambisi, maka saya sendiri pasti akan tersiksa ketika menemukan kegagalan.

Prinsip ini barangkali hanya mempan bagi saya, tetapi tidak ada salahnya jika saya mencoba untuk berbagi. Mungkin teman-teman akan merasa terinspirasi. 

Mimpi, kamu yang mengejar. Sementara ambisi, kamu yang dikejar.

Lalu, setelah berhasil menerbitkan buku, apakah saya merasa cukup?

Ternyata tidak, karena saya masih ingin terus berkarya. Buku-buku saya bukan yang terbaik, tidak pula terlaris. Kadang saya memang merasa kurang percaya diri karenanya, apalagi jika ada review negatif. Namun itulah pembaca, selera mereka tidak bisa ditebak.

Saya akan terus berkarya, akan terus berlatih agar buku-buku saya yang selanjutnya lebih berkembang, bermakna dan tentu saja memesona.

Omong-omong, quote di atas merupakan salah satu quote dari calon buku saya yang selanjutnya. Saat ini masih dalam tahap editing. Doakan ya biar prosesnya lancar.


Salam

... dan jika aku bisa menggenggam matahari, aku harus sudah siap ketika tanganku terbakar. Tetapi maaf, engkau, matahari juga masih terbelenggu kewajiban akan menafkahi alam semesta untuk berfotosintesis, sementara tanganku masih terbelenggu dalam kantung kecil di sisi tubuhku.

Biarlah untuk sementara, tanganku tetap di kantung dan engkau, matahari yang membuatku silau, tetaplah di atas sana untuk berkorban pada dunia. Kita berada dalam ruang masing-masing, hidup sendiri-sendiri dengan dunia berbeda. Namun aku tahu engkau disana, dan engkau tahu aku disini, tetap ada. Dan walau terhalang kain tipis bahan pakaianku, tetapi hangatmu selalu sampai padaku.




*postingan di blog lama pada tahun 2009. Ternyata dari dulu saya tuh orangnya sudah melow labil yak*

Surat pada Matahari

by on 6:41:00 PM
... dan jika aku bisa menggenggam matahari, aku harus sudah siap ketika tanganku terbakar. Tetapi maaf, engkau, matahari juga masih terbele...
Giveaway Time

Ini adalah giveaway gelombang pertama. Gelombang pertama, berarti ada lanjutannya dong? Iya, tentu saja. Untuk kesempatan ini penerbit akan membagikan 8 eks novel Rule Of Thirds untuk kamu. Syaratnya gampang saja, bisa kamu lihat di banner bawah.




Dan jika ingin melihat book trailernya, silakan mampir saja ke youtube.









Giveaway Novel Rule of Thirds

by on 9:35:00 PM
Giveaway Time Ini adalah giveaway gelombang pertama. Gelombang pertama, berarti ada lanjutannya dong? Iya, tentu saja. Untuk kesempatan...

 Apalagi yang paling menyakitkan dalam sebuah pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih? 

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka dalam memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter. 




Novel ketiga, akan terbit tanggal 26 Desember 2016.

Sebuah cerita tentang sang fotografer dan asistennya. Ladys dan Dias, mereka bekerja sama untuk membuat foto pre wedding yang indah, seindah mimpi-mimpi mereka akan cinta dan masa depan.

Ladys yang masih baru di bidang event tidak sadar bahwa antara fotografi  fashion dan fotografi wedding memiliki teknik yang berbeda, sehingga ketika Dias menegurnya dengan prinsip Rule of Thirds, ada sesuatu yang membuatnya marah.

Dias hanyalah asisten, tukang angkat-angkat barang. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah memegang kamera bisa mengajarinya cara mengambil foto yang benar?

Namun pada akhirnya, Ladys harus mengakui bahwa pekerjaan bukan standar untuk menentukan kualitas diri seseorang. Ada sesuatu yang dia temukan tentang sosok Dias. Sesuatu yang membuatnya menyadari bahwa dia mengobral maafnya terlalu murah.


Berlatarkan kota Denpasar dan sedikit kota Seoul, Ladys dan Dias akan mengajak kalian berkeliling ke beberapa tempat. Selain Pasar Badung, krematorium dan Pantai Suluban, mereka juga akan berburu harum melati ke Singaraja dan mengejar manisnya cita rasa apel Fuji ke Gianyar. Sentuhan lokalitas adalah salah satu hal menarik dalam cerita ini, kearifan lokal yang sangat terasa pada kehidupan Dias dan Ladys. Salah satunya akan mengantarkan pembaca pada indahnya kata maaf.

Banyak yang penulis titipkan pada cerita ini. Rasa hangatnya kasih keluarga, rasa sakitnya ditinggalkan, bagaimana kebahagiaan adalah hadiah untuk sebuah perjuangan dalam hidup. Tidak lupa, bahwa cinta memang akan selalu memaafkan.

Lewat cerita ini kamu akan sadar bahwa adalah ada hal-hal yang tidak harus mendapat maaf. Untuk itu, berhati-hatilah memilih cinta agar kamu tidak salah memaafkan.



salam

Penulis



Sebuah cerita itu berawal dari sepotong kecil ide.



Ketika menyelesaikan naskah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta, saya menemukan  foto sebuah tempat indah di Bali. Pada awalnya, foto itu hanya saya pakai sebagai bahan riset naskah. Hanya saja, ketika saya mengunjungi akun Instagram sang pengunggah, saya melihat banyak sekali foto  yang menggugah. Pemilik akun itu mungkin bukan seorang fotografer profesional, tetapi apa yang dia sajikan di koleksinya membuat saya membayangkan bagaimana rasanya jika menjadi seorang fotografer.

Kesan itu tertinggal begitu dalam, membuat saya terilhami akan sebuah ide. Tentang para fotografer yang sangat handal untuk membuat foto-foto bagus. Hanya saja, ide itu tertunda karena belum menemukan konflik yang tajam. Akhirnya,  selama beberapa saat hingga saya menyelesaikan naskah SMPKB, saya kembali menggodok ide ini. Sedikit demi sedikit, plotnya bertambah. Konflik demi konflik, penyelesaian demi penyelesaian. Sampai akhirnya saya merasa bahwa ide ini siap untuk ditulis.

Dulu sekali, saya pernah  berniat untuk menulis naskah tentang sebuah profesi. Niat itu kemudian saya salurkan pada naskah ini. Sehingga sebelum benar-benar mulai menulis, Saya butuh waktu yang cukup lama dalam mendalami kamera dan teori-teori fotografi. Saya sendiri suka melihat foto, tetapi buta sama sekali tentang kamera dan fotografi. Beruntung banyak sekali blog-blog dan juga forum yang mengupas soal fotografi di internet.

Saya mengumpulkan banyak artikel, mencatat beberapa istilah-istilah penting dalam fotografi. Dari berbagai istilah, Rule of Thirds merupakan yang paling unik. Pada awalnya, saya belum menemukan analogi yang pas mengenai istilah ini, hingga menjelang ending, saya merasakan bahwa tahap-tahap hidup manusia dalam mencari pasangan bisa kita bagi menjadi tiga. Apa saja? jawabannya tentu saja ada di novelnya. Hahahha

Selain itu, pada naskah ini, saya berusaha sekali untuk membuat karakter-karakter yang unik.  Saya pernah membaca sebuah teori membuat karakter yang kuat. Salah satu contoh dalam teori itu adalah memberi kegemaran khusus pada karakter, seperti misalnya seorang gadis yang selalu melihat awan. Berbekal teori itu, saya membuat sang karakter utama menyukai hal-hal khusus yang mengingatkan mereka pada masa lalu.

Ladys amat menyukai melati dan Dias selalu merindukan apel Fuji. Kenapa saya memilih melati dan apel Fuji? Tentu saja ada cerita khusus di balik dua hal itu dan sekali lagi, alasannya akan kamu dapatkan di bab 11.



Novel Rule of Thirds ini sendiri sebenarnya adalah 'kakak' bagi The Stardust Catcher, karena salah satu ide konflik Joe terinspirasi dari kisah ini. Namun takdir berlaku lain, karena Rule Of Thirds terbit belakangan. 

Pada akhirnya, saya benar-benar bahagia karena kisah ini berhasil dibawa ke hadapan pembaca. Bukannya bermaksud untuk mengabaikan naskah-naskah yang lain, tetapi naskah Rule of Thirds ini merupakan naskah yang paling saya sayang. Karakter-karakternya begitu dekat dan kuat. Bersyukur editor sama sekali tidak ada mengoreksi hal-hal krusial yang berhubungan dengan mereka, sehingga Ladys dan Dias yang tampil di novel, sama persis dengan Ladys dan Dias yang terbentuk dalam pikiran saya.

Menurut rencana, novel ini akan  terbit akhir Desember dan menemani libur akhir tahunmu. Ada cerita-cerita unik sebenarnya dalam proses penulisan, editing, terutama kejadian lucu dan menggelikan pada saat proses acc naskah ini di penerbit. Selengkapnya, akan saya ceritakan di post selanjutnya. 

Oh ya, mengenai foto di awal post ini, tempat yang muncul di foto kemudian masuk di naskah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta, di  bab yang berjudul Mencari Nirwana.

Seseorang yang suka menghayal dan mendapatkan kebahagiaan dari khayalan. Sangat mengharap hayalan itu nyata dan akhirnya menuliskannya dalam bentuk cerita.


Twitter : @alhzeta
Posel : alhzeta@gmail.com

Tiga kisah khayalannya sudah dibukukan, serta satu lagi dirilis dalam bentuk e-book.


1. Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta

Terbit bulan Maret 2016 oleh penerbit JOPH. Merupakan pemenang pertama untuk sayembara menulis yang diadakan penerbit. 

 Baca sinopsis di : Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta



2. The Stardust Catcher
Terbit tanggal 31 Maret 2016 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Naskah dipilih editor dari laman Gramedia Writing Project.


 baca sinopsis lengkap di : The Stardust Cacther Novel


3. Rule of Thirds

 Terbit tanggal 26 Desember 2016 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.


 Baca sinopsis selengkapnya di : Rule of Thirds novel


4. Proyek Rahasia Lula

Merupakan novela yang hanya diedarkan di Playstore. dirilis oleh penerbit Bentang Pustaka



Beli buku ini di : Proyek Rahasia Lula di Playstore


4. Friend Zone Alert 
Merupakan kumpulan novela yang berisi 5 cerita dari 5 penulis. Proyek Rahasia Lula masuk ke buku edisi cetak ini.



sinopsis singkat bisa dilihat di : Friend Zone Alert

Tentang Penulis

by on 6:15:00 PM
Seseorang yang suka menghayal dan mendapatkan kebahagiaan dari khayalan. Sangat mengharap hayalan itu nyata dan akhirnya menuliskannya dalam...