Sunday, April 17, 2016

Cerita di Balik Penulisan Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta


Wow, judulnya panjang. Benar-benar nggak SEO-minded banget. Namun kalau disingkat juga kayaknya nggak seru. Lagi pula, postingan ini juga bukan untuk lomba SEO yang harus ada di posisi satu si SERP, jadi sutralah.

Sebelumnya saya sudah pernah ceritain tentang proses diikutkannya naskah mentah novel ini ke lomba #WayBackHome. Namun saya belum cerita kayaknya tentang proses kreatif yang ada di baliknya.

Proses penulisannya dimulai sekitar bulan Juli tahun 2015. Naskah ini sendiri merupakan naskah keempat yang saya tulis di tahun 2015. Saat itu saya bosan menulis romance. Maklum tiga naskah terdahulu (yang pada akhirnya semuanya ditolak penerbit) adalah tentang drama percintaan, jadi saat itu saya ingin membuat naskah yang berbeda.

Kemudian muncul ide mengenai mantan narapidana itu. Jujur, cara saya mendapatkan inspirasi itu kadang tidak terduga. Kadang muncul seketika pas bangun tidur, kadang juga berkat mimpi. Khusus untuk naskah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta ini, ide itu tercetus dengan seketika. Kebetulan pada saat itu saya juga sedang berusaha memahami tentang konsep-konsep Tuhan lewat kitab suci, maka jadilah dua bidang itu saya satukan dalam naskah.

Proses penyempurnaan ide tidak berlangsung lama. Saya adalah orang yang impulsif, akan langsung menulis begitu ide muncul. Entah detail idenya lengkap atau tidak, yang penting premise utama hingga ending sudah terbayang. Kemudian bagaimana dengan outline? Hahaha.... saya punya outline mentah, bahkan sering bikin begitu ide keluar. Hanya saja pada praktiknya, plot lebih sering melenceng dari outline awal yang saya buat.

Lalu apa premise utama dari naskah ini? Simple, hanya seorang mantan narapidana yang akhirnya terdampar di Bali dan menemukan jati diri dengan bantuan seorang tour guide. Ide mengenai tour guide ini muncul setelah seringnya saya melihat turis-turis asing yang datang ke tempat-tempat suci dengan ditemani oleh orang lokal (dan biasanya berkecimpung di dunia spiritual).

Berbekal dengan plot utama tersebut, saya mulai menulis sambil berusaha menemukan detail perjalanan tokoh utamanya. Saya adalah orang yang percaya bahwa ide akan datang ketika kita fokus pada satu naskah. Jadi, ketika saya memutuskan untuk langsung menulis bab-bab awal, setiap detail cerita kemudian menghampiri saya dengan sendirinya.

Saat sedang tidak bisa menulis, saya melakukan riset. Tidak banyak sebenarnya, mengingat seting dan materi sudah saya hapal betul. Namun saya masih tidak berani memasukan konsep-konsep ke-Tuhanan secara sembarangan ke dalam naskah ini. Jadinya saya melakukan riset tambahan dengan membuka-buka Bhagawad Gita serta wejangan-wejangan suci seorang tokoh spiritual Bali yang namanya saya sebutkan di ucapan terima kasih.


Singkat kata, naskah ini selesai saya tulis selama kurang lebih dua bulan. Sambil proses self editing, saya mencari judul. Ini bagian yang susah, untuk naskah ini saya agak kesulitan mengambil judul. Beberapa alternatif, hingga akhirnya saya meminjam sebuah judul lagi. Prisoner of the Past.

Setelah naskah lolos jadi juara pertama, maka dimulailah serangkaian revisi. Tidak banyak, hanya beberapa poin. Ada adegan yang harus diperhalus (padahal itu udah dihalusin pakai amplas sebelumnya), ada pula adegan yang harus dibuang. Ada juga konflik yang dibuang (bagian ini yang bikin saya agak.... huh *mengelus dada* saking sayangnya). Cuma kan emang harus menerima saran dari editor. Jadi ya direlakan saja.

Judul yang sekarang "Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta" saya temukan dalam sepanjang sesi editing. Kebetulan saya pernah memberikan alternatif ending, sehingga beberapa bagian dari akhir naskah ini saya tulis ulang. Kemudian, pada saat itulah saya tercetus ide tentang kompas yang langsung disambut dengan antusias oleh sang editor.

Begitulah proses di balik novel ini. Sampai tahap ini, semua prosesnya menyenangkan kok. Walaupun ada ‘drama’ yang hmmm... *spoiler* tapi tetap, buku ini akhirnya sampai di tangan pembaca.


7 comments:

  1. ternyata masi ingett soal seo seo an chii :D

    ReplyDelete
  2. SEO dan SERP apa ya? Kok aku nggak mudeng sama sekali? Atau mungkin aku yang kudet. Hehehe. By the way, aku lebih suka judul panjang ini kok daripada Prisoner of the Past itu. :)

    Adegan yang diperhalus? Apakah itu ada di bagian saat Ravit dan Papi.....??? ._.

    Jujur aja aku jadi penasaran banget nih dengan adegan yang dibuang sayang itu. Biasanya beberapa penulis akan mem-post-kan part yang dibuang itu di blognya. Hanya untuk berbagi, meski bagian itu menurutnya tidaklah penting. Kalau memang disayangkan, coba share saja di blog ini kalau tidak keberatan. Aku mau tahu isinya bagaimana sampai sesayang itunya kalau dibuang. Kan sayang kalau nggak dibaca. Tapi ini cuma saran loh ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Aya, sekedar untuk tahu aja ya, SEO and SERF, itu istilah untuk blogger pengejar trafik, hahahha.... (trafic tahu ga?)

      Yap, yang dihalusin itu bagian Ravit dan si Papi di hotel. Pertamanya adegan itu vulgar, menjijikan. Makanya kuhalusin. Pas dibaca editor, eh harus dihalusin lagi ternyata.


      Yang dihilangkan sebenarnya bukan hanya sekadar adegan, tapi sebenarnya rangkaian adegan yang membentuk logika dan latar belakang ending. editor menilai itu konflik baru, dan konflik baru yang muncul di ending bisa mengurangi makna yang ingin ditonjolkan dari buku. Karena berhubungan dengan ending dan juga akan spoiler, jadi ga berani kuposting di blog.

      Delete
    2. Oh begitu yaaa :( tapi sayangnya aku udah terlanjut penasaran nih haha >,< menurut mbaknya sendiri, apakah setelah dibuangnya bagian itu jadi mengurangi esensi logika dan latar belakang ending?

      Menurutku dengan ending yang sudah jadi seperti sekarang ini udah bagus kok. Nggak terlalu gimana juga meski mungkin harapan sebagian pembaca ingin yang lebih dari itu antara Ravit & Uci.

      Berarti kalau bagian-bagian penting itu nggak dibuang, bukunya bisa lebih jadi tebal dari ini dong ya?

      Delete
    3. ya ampun, dirimu itu loh. penasaran sampai sebegitunya hahahha....

      ga merubah ending kok sebenarnya. esensi logika juga ga sepenuhnya hilang karena adegan itu hanya menjelaskan beberapa hal yang tidak begitu mencolok.

      yang hilang itu adalah salah satu lagi unsur lokalitas yang bersinggungan dengan dunia magis (biar makin penasaran) hahahha....

      tapi syukur juga bagian ini hilang, jadi ga dianggap ada unsur fantasinya.


      Delete
    4. Hah? Magis? Kalau gitu nggak jadi deh penasarannya haha. Untunglah isi novel yang sudah jadinya seperti yang sekarang ini, porsinya udah pas menurutku yang menjelaskan soal 'itu'. Kalau nambah lagi, bisa-bisa aku parno sendiri baca malam-malam sendirian wkwkwk

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete