Tuesday, November 22, 2016

Novel Rule Of Thirds : Ide Awal

Sebuah cerita itu berawal dari sepotong kecil ide.



Ketika menyelesaikan naskah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta, saya menemukan  foto sebuah tempat indah di Bali. Pada awalnya, foto itu hanya saya pakai sebagai bahan riset naskah. Hanya saja, ketika saya mengunjungi akun Instagram sang pengunggah, saya melihat banyak sekali foto  yang menggugah. Pemilik akun itu mungkin bukan seorang fotografer profesional, tetapi apa yang dia sajikan di koleksinya membuat saya membayangkan bagaimana rasanya jika menjadi seorang fotografer.

Kesan itu tertinggal begitu dalam, membuat saya terilhami akan sebuah ide. Tentang para fotografer yang sangat handal untuk membuat foto-foto bagus. Hanya saja, ide itu tertunda karena belum menemukan konflik yang tajam. Akhirnya,  selama beberapa saat hingga saya menyelesaikan naskah SMPKB, saya kembali menggodok ide ini. Sedikit demi sedikit, plotnya bertambah. Konflik demi konflik, penyelesaian demi penyelesaian. Sampai akhirnya saya merasa bahwa ide ini siap untuk ditulis.

Dulu sekali, saya pernah  berniat untuk menulis naskah tentang sebuah profesi. Niat itu kemudian saya salurkan pada naskah ini. Sehingga sebelum benar-benar mulai menulis, Saya butuh waktu yang cukup lama dalam mendalami kamera dan teori-teori fotografi. Saya sendiri suka melihat foto, tetapi buta sama sekali tentang kamera dan fotografi. Beruntung banyak sekali blog-blog dan juga forum yang mengupas soal fotografi di internet.

Saya mengumpulkan banyak artikel, mencatat beberapa istilah-istilah penting dalam fotografi. Dari berbagai istilah, Rule of Thirds merupakan yang paling unik. Pada awalnya, saya belum menemukan analogi yang pas mengenai istilah ini, hingga menjelang ending, saya merasakan bahwa tahap-tahap hidup manusia dalam mencari pasangan bisa kita bagi menjadi tiga. Apa saja? jawabannya tentu saja ada di novelnya. Hahahha

Selain itu, pada naskah ini, saya berusaha sekali untuk membuat karakter-karakter yang unik.  Saya pernah membaca sebuah teori membuat karakter yang kuat. Salah satu contoh dalam teori itu adalah memberi kegemaran khusus pada karakter, seperti misalnya seorang gadis yang selalu melihat awan. Berbekal teori itu, saya membuat sang karakter utama menyukai hal-hal khusus yang mengingatkan mereka pada masa lalu.

Ladys amat menyukai melati dan Dias selalu merindukan apel Fuji. Kenapa saya memilih melati dan apel Fuji? Tentu saja ada cerita khusus di balik dua hal itu dan sekali lagi, alasannya akan kamu dapatkan di bab 11.



Novel Rule of Thirds ini sendiri sebenarnya adalah 'kakak' bagi The Stardust Catcher, karena salah satu ide konflik Joe terinspirasi dari kisah ini. Namun takdir berlaku lain, karena Rule Of Thirds terbit belakangan. 

Pada akhirnya, saya benar-benar bahagia karena kisah ini berhasil dibawa ke hadapan pembaca. Bukannya bermaksud untuk mengabaikan naskah-naskah yang lain, tetapi naskah Rule of Thirds ini merupakan naskah yang paling saya sayang. Karakter-karakternya begitu dekat dan kuat. Bersyukur editor sama sekali tidak ada mengoreksi hal-hal krusial yang berhubungan dengan mereka, sehingga Ladys dan Dias yang tampil di novel, sama persis dengan Ladys dan Dias yang terbentuk dalam pikiran saya.

Menurut rencana, novel ini akan  terbit akhir Desember dan menemani libur akhir tahunmu. Ada cerita-cerita unik sebenarnya dalam proses penulisan, editing, terutama kejadian lucu dan menggelikan pada saat proses acc naskah ini di penerbit. Selengkapnya, akan saya ceritakan di post selanjutnya. 

Oh ya, mengenai foto di awal post ini, tempat yang muncul di foto kemudian masuk di naskah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta, di  bab yang berjudul Mencari Nirwana.

No comments:

Post a Comment