Wednesday, February 8, 2017

Surat pada Matahari



... dan jika aku bisa menggenggam matahari, aku harus sudah siap ketika tanganku terbakar. Tetapi maaf, engkau, matahari juga masih terbelenggu kewajiban akan menafkahi alam semesta untuk berfotosintesis, sementara tanganku masih terbelenggu dalam kantung kecil di sisi tubuhku.

Biarlah untuk sementara, tanganku tetap di kantung dan engkau, matahari yang membuatku silau, tetaplah di atas sana untuk berkorban pada dunia. Kita berada dalam ruang masing-masing, hidup sendiri-sendiri dengan dunia berbeda. Namun aku tahu engkau disana, dan engkau tahu aku disini, tetap ada. Dan walau terhalang kain tipis bahan pakaianku, tetapi hangatmu selalu sampai padaku.




*postingan di blog lama pada tahun 2009. Ternyata dari dulu saya tuh orangnya sudah melow labil yak*

No comments:

Post a Comment