Monday, May 8, 2017

Meet Kei & Ghi : Tentang Piano, Hujan, dan Polifoni



........

Kei mengangguk, tersenyum. Sikap diamnya kembali mengundang hening.

“Kenapa milih piano?” Ghi kembali memancing perbincangan. Ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini.
“Kan ada alat musik yang lain. Biola misalnya atau cello?”

Kei tidak langsung menyahut, melainkan menatap ke luar lewat jendela. Ghi memerlukan waktu sekitar beberapa menit untuk menunggunya menyahut.

“Mungkin karena piano itu seperti hujan,” kata Kei. “Mereka itu bisa menghasilkan polifoni.”

Ghi mengernyit. “Polifoni?”

“Gaya musik yang menggabungkan dua suara atau lebih, kamu tahu?”

Ghi mengangguk. “Iya, piano bisa memainkan ritmis dan melodi secara bersama-sama. Tapi aku nggak tahu kalau hujan itu juga adalah polifoni.”

Kali ini tidak hanya tersenyum, Kei tergelak kecil. “Coba kamu bayangkan hujan tanpa suara rintiknya saat menimpa genteng atau daun, tanpa desah anginnya, tanpa derunya? Menurutmu suaranya akan indah seperti yang kita dengar sekarang?”

“Ah iya,” seru Ghi, seketika merasa takjub. “Suara-suara berbeda yang terharmonisasi dengan baik dan  menghasilkan musik yang indah.”

“Iya, begitulah,” sahut Kei singkat yang diakhiri dengan senyum.

“Jadi... kamu sebenarnya lebih suka hujan atau piano?”

Kembali Kei menggumam, seakan pertanyaan itu susah sekali untuk dijawab. “Aku suka piano dan juga hujan. Paling suka memainkan piano saat hujan.”

“Kita buat video klip lagunya saat hujan, kalau perlu main piano sambil hujan-hujanan. Oke?”

“Oh, kedengarannya bagus.”

“Konsepnya kita pakai itu aja. Oke?”

Kei mengangguk.

*


Welcome Home, Rain.


No comments:

Post a Comment